Menulis merupakan kemampuan dasar yang dimiliki hampir seluruh umat manusia. Sejak kecil kebanyakan orang tua sudah mengajarkan anaknya untuk bisa menulis. Hal itu dikarenakan betapa pentingnya menulis bagi kehidupan manusia. Menulis merupakan kegiatan untuk menuangkan semua yang ada dalam pikiran pada suatu media. Menurut Djago Tarigan menulis merupakan ekspresi seseorang baik itu ide, gagasan, pendapat, atau pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan.
Menulis merupakan kemampuan dasar yang dimiliki hampir seluruh umat manusia. Sejak kecil kebanyakan orang tua sudah mengajarkan anaknya untuk bisa menulis. Hal itu dikarenakan betapa pentingnya menulis bagi kehidupan manusia. Menulis merupakan kegiatan untuk menuangkan semua yang ada dalam pikiran pada suatu media. Menurut Djago Tarigan menulis merupakan ekspresi seseorang baik itu ide, gagasan, pendapat, atau pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan.
Salah satu cara yang efektif dan efisien dalam menghadapi era Industri 4.0 adalah dengan menulis. Era industri 4.0 merupakan suatu masa di mana semua proses kehidupan sudah berubah menjadi serba otomatisasi dan digitalisasi. Menulis di era 4.0 bukanlah suatu halangan yang fundamental, karena pada zaman ini menulis adalah hal yang sangat mudah dan praktis. Ruang lingkup menulis di era 4.0 sangat luas dan kompleks. Kita bisa menulis apapun di aplikasi yang ada dalam smartphone kita tanpa harus mencari media seperti kertas, buku, atau media lainnya terlebih dahulu. Dengan keadaan seperti itu, sudah sepatutnya kita harus menulis sebuah karya yang berpengaruh di era 4.0 ini.
Dengan menulis, apa yang ada dalam pikiran kita tetap abadi karena kita menuangkannya dalam bentuk fisik melalui media yang ada. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah”. Iman Al-Ghazali juga pernah mengatakan “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Meskipun kita bukan orang yang terkenal, tetapi dengan menulis bisa saja kita jadi orang yang dikenal.
Dengan menulis, kekuatan intuisi dan imajinasi akan berkembang serta menambah wawasan baru. Sama seperti dengan yang lain, kemampuan menulis akan berkembang jika diasah dan dilatih setiap hari. Untuk bisa menulis tidak perlu memiliki bakat khusus yang harus dimiliki seseorang. Pengalaman hidup yang ada di sekitar kita bisa menjadi bahan yang menarik untuk diekspresikan dalam tulisan. Ada banyak penulis hebat yang mampu mengekspresikan pengalamannya sendiri menjadi sebuah karya yang fenomenal. Pramoedya Ananta Toer, penulis novel era awal kemerdekaan, merupakan orang yang mampu mengekspresikan pengalamannya menjadi sebuah novel yang sampai saat ini masih digemari oleh pembaca. Kebanyakan dari novel-novelnya diambil berdasarkan pengalaman pribadinya yang kemudian dikemas dengan gaya bahasa dan diksi yang unik, sehingga banyak pembaca tertarik dengan karya tulisannya tersebut.
Dengan menulis, daya kreatif yang tersembunyi dalam diri kita akan tersingkap. Kreativitas merupakan komponen utama yang harus melekat pada diri seseorang dalam menghadapi era industri 4.0. Tanpa kreativitas karya seseorang tidak akan mempunyai nilai yang berharga, karena karya tersebut mempunyai kesamaan dengan karya orang lain. Salah satu cara untuk meningkatkan daya kreativitas adalah dengan menulis. Ketika menulis jaringan syaraf yang ada di otak kita akan bekerja lebih dari biasanya, sehingga saluran penting dalam diri kita akan terbuka dan menambah wawasan-wawasan baru.
Menulis mempunyai manfaat dan pengaruh yang sangat besar baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Salah satu contoh ulama kontemporer yang mempunyai tulisan banyak dan berpangaruh di dunia adalah Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili. Al-Zuhaili merupakan ulama ahli tafsir dan fiqh kontemporer abad ke-20 yang mempunyai banyak karya. Ia mampu menulis lebih dari 200 kitab dan 500 lebih karya baik dalam bentuk jurnal, artikel, maupun makalah. Berkat tulisannya tersebut, pada tahun 2014 Al-Zuhaili berhasil masuk dalam jajaran daftar 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia (The World’s 500 Most Influential Muslims) dan para ulama mengumpamakannya sebagai Imam Al-Suyuthi di masa lampau. Oleh karena itu, jika kita ingin mempunyai pengaruh terhadap orang lain di era 4.0 ini, maka mulai dari sekarang kita harus menulis.
Nama : Anfasa Naufal Reza Irsali
Prodi : Sejarah Peradaban Islam
ADA
Dwi Husnawan
01.56
Test
Dwi Husnawan
01.52